Khamis, 3 November 2011

salam tanggal 3 november 2011...

pertamanya mari kita berdoa agar Allah merahmati dan Meredhai kita sbg insan di muka bumi ini.
"Wahai ALLAH.. Wahai Sang Pemilik Jiwa anak-anak Adam dan Hawa.. Wahai yang mendetakkan jantung ini.. Wahai yang selalu menganugerahkan nikmat yang tiada terkira.. Wahai yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.. Ampuni hamba yang seringkali lalai mengingat-MU.. Ampuni hamba yang seringkali alpa menjalankan perintah-MU"
Ameen Ya Rabbal Alamin......



Setiap hamba Allah memiliki kemampuan dan kemahuan  beribadah yang berbeza-beza. Sedangkan nilai ibadah seorang hamba di hadapan Allah ditunjukkan dengan ikhlasnya dalam beramal. Tanpa keikhlasan takkan bererti apa-apa amal seorang hamba. Tidak akan ada nilainya di sisi Allah jika tidak ikhlas dalam beramal.Sedarkah kita bahawa banyak kita sedar dan tidak sedar kita banyak melakukan amal kebaikan kerana untuk mendapat keredhaan Allah tetapi mendapat pujian orang ramai.
Disini saya kongsikan kisah yang bagaimana Allah SWT sangat mermurkai orang yang mebuat amal untuk mendapat pujian dari orang

Imam Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan dari Syufai al-Ashbahi bahawa suatu ketika, ia masuk ke kota Madinah. Di sana, ia melihat ada seseorang yang sedang dikerumuni oleh banyak orang. Syufai bertanya, “Siapakah orang ituMereka menjawab, “Abu Hurairah.” Syufai berkata, “Aku segera mendekatinya dan duduk di hadapannya.”
Saat itu, Abu Hurairah masih sibuk menyampaikan hadith kepada orang ramai yang mengelilinginya. Setelah selesai mengajar dan semua orang telah pergi, aku berkata kepadanya, “Aku memohon kepadamu dengan sebenar-benarnya, sampaikanlah kepadaku sebuah hadith yang engkau dengar dari Rasulullah saw yang mudah kuhafal dan kufahami.
Abu Hurairah berkata, “Baiklah, aku akan sampaikan sebuah hadith yang aku dengar dari Rasulullah saw dan mudah untuk kau hafal dan kau fahami.”
Tiba-tiba, Abu Hurairah terisak-isak sehingga nyaris pengsan. Tidak lama kemudian, Abu Hurairah sedar kembali seraya berkata, “Aku akan sampaikan sebuah hadith yang aku dengar dari Rasulullah saw di rumah ini, dan ketika itu hanya ada kami berdua,” Kemudian Abu Hurairah terisak-isak lagi, dan setelah sedar kembali, ia mennyusap wajahnya, lalu berkata, “Aku akan sampaikan sebuah hadith yang aku dengar dari Rasulullah saw. Ketika itu, hanya aku dan beliau yang berada di rumah ini.”
Abu Hurairah terisak-isak lagih, lalu setelah sedar, ia mengusap wajahnya dan berkata, “Baiklah, aku akan sampaikan sebuah hadith yang aku dengar dari Rasulullah saw dan saat itu hanya aku dan beliau yang berada di rumah ini.” Abu Hurairah terisak-isak lebih keras, lalu tubuhnya terkulai pengsan. Aku menyandarkan tubuhnya kepada tubuhku dalam waktu yang cukup lama.
Setelah sedar kembali, Abu Hurairah berkata, “Rasulullah saw berkata kepadaku bahawa apabila hari kiamat tiba, Allah akan turun untuk menemui hamba-hamba-Nya untuk mengadili mereka. Saat itu, setiap makhluk tertunduk pasrah.Orang pertama yang dipanggil oleh Allah adalah orang yang menguasai Al-Quran, orang yang terbunuh dalam perang dijalan Allah, dan orang yang kaya raya.“

Allah bertanya kepada orang yang menguasai Al-Quran, “Bukankah Aku telah mengajarkan kepadamu Al-Quran yang diturunkan kepada RasulKu?” Ia menjawab, “Benar, wahai Tuhanku.” Allah bertanya lagi, “Apa yang kamu lakukan dengan apa yang telah Kuajarkan kepadamu itu?” Ia menjawab, “Aku membacanya sepanjang siang dan malam.” Allah befirman, “Kamu berbohong.” Malaikat pun menimpali, “Kamu berbohong.” Allah melanjutkan, “Sebenarnya, yang kamu inginkan dengan bacaanmu itu, adalah agar kamu dikenal sebagai pembaca (penghafal) Al-Quran. Dan gelaran itu telah kamu dapatkan.“
Lalu orang yang kaya raya dipanggil. Allah bertanya kepadanya, “Bukankah Aku telah membuat hidupmu senang, sehingga kamu tidak memerlukan bantuan dari sesiapa pun?” Ia menjawab, “Benar, wahai Tuhanku.” Allah bertanya lagi, “Apa yang kamu lakukan dengan harta yang telah Aku berikan kepadamu?” Ia menjawab, “Aku menggunakannya untuk menyambung hubungan kekeluargaan (silaturrahim) dan bersedekah” Allah befirman, “Kamu berbohong.” Malaikat pun menimpali, “Kamu berbohong.” Allah melanjutkan, “Sebenarnya, yang kamu inginkan dengan perbuatanmu itu, adalah agar kamu dikenal sebagai orang yang dermawan. Dan gelaran itu telah kamu dapatkan.“
Lalu orang yang terbunuh dalam perang di jalan Allah dipanggil. Allah bertanya kepadanya, “Kenapa kamu terbunuh?” Ia menjawab, “Aku diperintahkan agar berjihad dijalanMu, maku aku pun ikut berjihad hingga terbunuh.” Allah befirman, “Kamu berbohong.” Malaikat pun menimpali, “Kamu berbohong.” Allah melanjutkan, “Sebenarnya, yang kamu inginkan dari pengorbanan itu adalah agar kamu dikenal sebagai seorang yang gagah berani. Dan gelaran itu telah kamu dapatkan.“
Kemudian Rasulullah saw menepuk lutuku seraya bersabda, “Hai Abu Hurairah, mereka bertiga adalah makhluk Allah yang pertama dijerumuskan ke dalam neraka pada hari Kiamat.“
(Dipetik dari Sunan Tirmidzi, tahqiq: Ahmad Syakir, no. Hadith 2382. Abu Isa at-tarmidzi berkata, “Hadith ini adalah hadith Hasan Gharib.”)

mari kita bermuhasabah  sejenak ....

Selasa, 1 November 2011

kehidupan ...

salam Tanggal 1 november di petang yang mendung...






“Dunia ini umpama lautan yang luas. Kita adalah kapal yg belayar dilautan telah ramai kapal karam didalamnya..andai muatan kita adalah iman,dan layarnya takwa,nescaya kita akan selamat dari tersesat di lautan hidup ini.”..


Jelas,mutiara kata ini mengambarkkan dunia in merupakan tempat persinggahan semata-mata.Kapal yg belayar yg mencari tempat persinggahan.Berfikir sejenak, merenung masa lalu adalah permulaan yang baik untuk kita bertindak.Hidup dalam diredhai dan dirahmati oleh Allah SWT adlah yang paling bahagia bagi insan mukmin.
               
               Ambillah waktu untuk berfikir, itu adalah sumber kekuatan. Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahsia dari masa muda yang abadi. Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan. Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan. Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan. Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan. Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati. Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasa bererti. Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan. Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju syurga.”
                         
  Setiap manusia adalah arkitek kehidupannya sendiri. Dia membinanya seperti mana yang dikehendakinya namun selepas dia membina apa yang dikehendakinya, kadang kala dia mendapati bahawa dia tidak menyukai apa yang telah dibinanya dan mencari seseorang atau sesuatu untuk dipersalahkan daripada mencuba untuk menukar dirinya sendiri....











Isnin, 31 Oktober 2011

Nabi Musa AS yang'belajar'kepada Nabi Khidir AS



salam tanggal 31Oktober 2011....
Baru sebentar td menghadiri kuliyyah di Surau Al- Muttaqin di Kg Padang Air .Kuliyyah ataupun "dengor" dalam dialek ganu atau nadah kitab bagi Kelanatan kalu tidak silap .Dalam keadaan yang kurang sihat,saya memaksa diri untuk mendengar  kuliyyah yg ingin disampaikan oleh Al Fadhil Ustaz Fauzi..seorang anak tempatan kg padang Air yg masih gagah untuk  berdakwah .Sesuatu menarik bagi saya td,bagaimana dia menceritakan berkenaan sejarah Nabi Musa A.s yang belajar kepada Nabi khaidir..Di sini saya ingin berkongsi dengan sahabat-sahabat yg sudah tahu atau yang masih tidak akan sejarah cerita ini..Diharap selepasmmemahami kisah ini,Kita kan sedar bahawa Allah S.W.T begitu berkuasa terhadap makhluknya...

Suatu hari Nabi Musa As. berpidato di hadapan kaumnya yaitu Bani Israil. Nabi Musa As. menyampaikan nasihat yang melunakkan hati dan membuat air mata bercucuran. Begitulah para Nabi manakala mereka memberi nasihat. Nasihat mereka melunakkan hati yang keras dan melecut jiwa yang malas. Hal itu karena hati dan jiwa mereka dipenuhi dengan rasa takut dan cinta kepada Allah Swt. Mereka diberi kemampuan untuk menjelaskan dan dikaruniai dengan ilmu yang banyak.
Banyak orang ketika mereka mendengar orasi dari para orator ulung sampai terkagum-kagum. Terlebih jika mereka adalah Nabi-Nabi Allah. Setelah Nabi Musa As. menyelesaikan khutbahnya, dia diikuti oleh seorang laki-laki yang meninggalkan tempat perkumpulan. Laki-laki ini bertanya kepada Nabi Musa As., "Apakah di bumi ini terdapat orang yang lebih alim darimu?" Nabi Musa As. menjawab, "Tidak."
Nabi Musa As. adalah salah seorang Rasul yang mulia. Dia termasuk dari lima Rasul yang digelari Ulul Azmi. Nabi Musa As. menempati urutan ketiga diantara para Nabi dan Rasul yang mendapat gelar Ulul Azmi. Nabi Ibrahim As. berada di urutan kedua dan Nabi Muhammad Saw. di urutan pertama. Nabi Musa As. adalah Kalimullah (Nabi yang berbincang dengan Allah). Allah Swt. memberinya kitab Taurat yang berisikan cahaya dan petunjuk. Allah Swt. mengajarkannya banyak ilmu. Akan tetapi, seberapapun tingginya ilmu seorang hamba, dia haruslah tetap bertawadhu kepada Tuhannya. Jika dia ditanya dengan pertanyaan seperti itu, semestinya dia menjawab, "Wallahu a'lam." Seberapa pun ilmu yang dimiliki oleh seseorang tetaplah tidak ada bandingannya dibandingkan dengan ilmunya Allah Swt.
Allah Swt. mencela Nabi Musa As. yang tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. Allah Swt. mewahyukan kepadanya, "Ada, ada yang lebih alim darimu. Aku mempunyai seorang hamba di tempat bertemunya dua laut. Dia memiliki ilmu yang tidak kamu miliki." Manakala Nabi Musa As. menyimak hal itu, dia pun bertekad ingin menemui hamba shalih tersebut untuk menimba ilmu darinya. Nabi Musa memohon kepada Allah Swt. agar menunjukkan tempat keberadaannya. Allah Swt. memberitahu bahwa dia berada di tempat bertemunya dua laut. Allah Swt. memerintahkan Nabi Musa As. supaya membawa serta ikan yang telah mati. Musa akan menemukan hamba shalih itu di tempat di mana Allah Swt. menghidupkan ikan itu. Nabi Musa As. berjalan dengan seorang pemuda temannya menuju tempat bertemunya dua laut.
Dia meminta kepada si pemuda agar memberitahu jika ikan itu hidup. Keduanya sampai di sebuah batu di pantai. Nabi Musa As. berbaring di balik batu untuk beristirahat karena perjalanan panjang yang membuatnya letih. Di tempat itulah ikan itu bergerak- gerak di dalam keranjang. Dengan kodrat Allah Swt. ia hidup, melompat ke laut, membuat jalan yang terlihat jelas. Maka airnya berbentuk seperti pusaran, dan Allah Swt. menahan laju air dari ikan tersebut.
Si pemuda melihat ikan yang hidup itu, tetapi dia tidak menyampaikannya kepada Nabi Musa As. karena dia sedang tidur. Setelah terbangun, dia lupa menyampaikan perkara ikan tersebut kepada Nabi Musa As. Pemuda itu belum teringat kecuali setelah keduanya pergi dari tempat itu. Pada hari itu dan pada malam itu keduanya terus berjalan.
Pada hari berikutnya, ketika waktu makan siang telah tiba, Nabi Musa As. meminta pemuda itu untuk menghidangkan makan siang mereka berdua. Makanan mengingatkan pemuda itu kepada ikan, maka dia pun menyampaikan perkara ikan tersebut kepada Nabi Musa As. Ikan itu telah lompat pada saat keduanya beristirahat di batu kemarin. Perjalanan keduanya cukup mudah. Keduanya melewati tempat yang ditentukan, hingga kelelahan. Nabi Musa As. dan temannya berjalan berbalik menyusuri jejak semula yang telah mereka lalui, demi menuju ke batu tempat mereka beristirahat. Laki-laki yang dicari oleh Nabi Musa As. berada di sana di tempat di mana ikan itu lepas. Sampailah keduanya di batu itu. Keduanya mendapati seorang hamba shalih sedang berbaring di atas tanah yang hijau tertutup oleh kain, ujungnya di bawah kakinya dan ujung lainnya di bawah kepalanya.
Nabi Musa As. langsung memberi salam, "Assalamu'alaikum." Sepertinya daerah itu adalah daerah kafir. Oleh karenanya, hamba shalih tersebut merasa sangat aneh mendengar salam di daerah itu. Dia menjawab, "Dari mana salam di bumiku." Kemudian hamba shalih itu bertanya siapa Musa. Nabi Musa As. memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan maksud kedatangannya. Dia datang untuk menyertainya dan belajar ilmu yang berguna darinya.
Hamba shalih itu berkata mengingkari perjalanan Nabi Musa As. kepada dirinya, "Apa kamu tidak merasa cukup dengan apa yang ada dalam kitab Taurat dan kamu diberi wahyu?" Kemudian hamba shalih itu menyampaikan bahwa ilmu mereka berdua berbeda, walaupun sumber keduanya adalah satu. Hanya saja, masing-masing mempunyai ilmu yang berbeda yang Allah Swt. khususkan untuknya. "Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki ilmu yang Allah ajarkan kepadaku yang tidak kamu ketahui. Kamu juga mempunyai ilmu yang Allah ajarkan kepadamu yang tidak Allah ajarkan kepadaku."
Nabi Musa As. meminta agar diizinkan untuk menyertainya dan mengikutinya. Dia menjawab, "Kamu tidak akan bisa bersabar bersamaku." Nabi Musa As. pun berjanji akan sabar dengan izin dan kehendak Allah Swt. Hamba shalih itu mensyaratkan atas Nabi Musa As. agar tidak bertanya tentang sesuatu sampai dia sendiri yang nanti akan menjelaskan dan menerangkannya.
Nabi Musa As. dan Nabi Khidhir As. berjalan di pantai. Keduanya hendak menyeberang ke pantai yang lain, dan mendapatkan perahu kecil yang akan menyeberangkan para penumpang di antara kedua pantai. Orang-orang sudah mengenal hamba shalih itu, maka mereka menyeberangkannya bersama dengan Nabi Musa As. ke pantai seberang secara gratis.
Nabi Musa As. dan Nabi Khidhir As. melihat seekor burung yang hinggap di pinggir perahu. Burung itu mematok air dari laut sekali, maka hamba shalih berkata kepada Nabi Musa As., "Demi Allah, ilmumu dan ilmuku dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah seperti yang dipatokkan burung itu dengan paruhnya dari air laut."
Ketika keduanya berada di atas perahu, Nabi Musa As. dikejutkan oleh Nabi Khidhir yang mencopot sebuah papan kayu dari perahu itu dan menancapkan patok padanya. Nabi Musa As. lupa akan janjinya, dengan cepat dia mengingkari.
Pengrusakan di bumi adalah kejahatan, yang lebih jahat jika dilakukan kepada orang yang memiliki jasa kepadanya, "Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat suatu kesalahan besar." (QS. Al-Kahfi: 71). Di sini hamba shalih itu mengingatkan Musa akan janjinya, "Bukankah aku telah berkata, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku." (QS. Al-Kahfi: 72). Pertanyaan Nabi Musa As. yang pertama ini dikarenakan dia lupa, sebagaimana hal itu dijelaskan oleh Rasulullah Saw.
Nabi Musa As. dan Nabi Khidhir terus berjalan. Nabi Musa As. dikejutkan oleh Nabi Khidhir yang menangkap anak kecil yang sehat dan lincah. Nabi Khidhir menidurkan dan menyembelihnya, memenggal kepalanya. Di sini Nabi Musa As. tidak sanggup untuk bersabar terhadap apa yang dilihatnya. Dengan tangkas dia mengingkari, sementara dia menyadari janji yang diputuskannya. "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang munkar." (QS. Al-Kahfi: 74)
Pengingkaran Nabi Musa As. dijawab oleh hamba shalih itu dengan pengingkaran, "Bukankah sudah aku katakan bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat bersabar bersamaku?" (QS. Al-Kahfi: 75)
Di sini Nabi Musa berhadapan dengan kenyataan yang sebenarnya, bahwa dia tidak mampu berjalan menyertai laki-laki ini lebih lama lagi. Nabi Musa tidak kuasa melihat perbuatan seperti ini dan diam. Hal ini kembali kepada dua perkara. Pertama, tabiat Nabi Musa. Nabi Musa dengan jiwa kepemimpinan yang dimilikinya sudah terbiasa menimbang segala sesuatu yang dilihatnya. Dia tidak terbiasa diam jika menyaksikan sesuatu yang tidak diridhainya.
Dan kedua, dalam syariat Nabi Musa, pembunuhan seorang anak adalah sesuatu kejahatan. Bagaimana mungkin Nabi Musa tidak mengingkarinya, siapa pun pelakunya. Dalam hal ini Musa mengakui kepada hamba shalih tersebut. Musa memohon kesempatan yang ketiga dan yang terakhir. Jika sesudahnya Nabi Musa bertanya, maka dia berhak untuk meninggalkannya.
Keduanya lantas berjalan, hingga tibalah di sebuah desa yang penduduknya pelit. Nabi Musa dan Nabi Khidhir meminta kepada mereka hak bertamu. Namun mereka berdua hanya mendapatkan penolakan dari mereka. Walaupun demikian, Nabi Khidhir memperbaiki tembok di desa itu yang miring dan hampir roboh. Ini perkara yang aneh. Mereka menolak menerima keduanya sebagai tamu, tapi hamba shalih ini memperbaiki tembok mereka dengan gratis.
Di sini Nabi Musa As. memilih berpisah. Hal ini ditunjukkan oleh pertanyaan Nabi Musa As. kepada hamba shalih tentang alasan dia memperbaiki tembok secara gratis, padahal tembok itu dimiliki oleh kaum yang menolak mereka.
Seandainya Nabi Musa As. bersabar menyertai hamba shalih ini, niscaya kita bisa mengetahui banyak keajaiban dan keunikan yang terjadi padanya. Akan tetapi Nabi Musa As. memilih berpisah setelah hamba shalih ini menerangkan tafsir dari perbuatannya dan rahasia yang terkandung dari perilaku yang dilakukannya. Dan perkara ini tercantum dalam surat Al-Kahfi.
Adapun tiga hikmah yang ada dibalik tiga kejadian yang 'diajarkan' oleh Nabi Khidir kepada Nabi Musa adalah :
Kejadian pertama adalah ketika Nabi Khidir menghancurkan perahu yang mereka tumpangi karena perahu itu dimiliki oleh seorang yang miskin dan di daerah itu tinggallah seorang raja yang suka merampas perahu miliki rakyatnya. Ini sesuai dengan firman Allah Swt. "Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera." (QS Al-Kahfi: 79)
Kejadian yang kedua adalah ketika Nabi Khidir menjelaskan bahwa beliau membunuh seorang anak karena kedua orang tuanya adalah pasangan yang beriman dan jika anak ini menjadi dewasa dapat mendorong bapak dan ibunya menjadi orang yang sesat dan kufur. Kematian anak ini digantikan dengan anak yang shalih dan lebih mengasihi kedua bapak-ibunya hingga ke anak cucunya. Ini sesuai dengan firman Allah Swt. "Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya)." (QS Al-Kahfi: 80-81)
Kejadian yang ketiga (terakhir) adalah dimana Nabi Khidir menjelaskan bahwa rumah yang dinding diperbaiki itu adalah milik dua orang kakak beradik yatim yang tinggal di kota tersebut. Didalam rumah tersebut tersimpan harta benda yang ditujukan untuk mereka berdua. Ayah kedua kakak beradik telah meninggal dunia dan merupakan seorang yang shalih. Jika tembok rumah tersebut runtuh, maka bisa dipastikan bahwa harta yang tersimpan tersebut akan ditemukan oleh orang-orang di kota itu yang sebagian besar masih menyembah berhala, sedangkan kedua kakak beradik tersebut masih cukup kecil untuk dapat mengelola peninggalan harta ayahnya. Ini sesuai dengan firman Allah Swt. "Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya". (QS Al-Kahfi: 82)
Akhirnya Nabi Musa As. sadar hikmah dari setiap perbuatan yang telah dikerjakan Nabi Khidir. Akhirnya mengerti pula Nabi Musa dan merasa amat bersyukur karena telah dipertemukan oleh Allah dengan seorang hamba Allah yang shalih yang dapat mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak dapat dituntut atau dipelajari yaitu ilmu laduni. Ilmu ini diberikan oleh Allah SWT kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Nabi Khidir yang bertindak sebagai seorang guru banyak memberikan nasihat dan menyampaikan ilmu seperti yang diminta oleh Nabi Musa as. dan Nabi Musa menerima nasihat tersebut dengan penuh rasa gembira.

Ahad, 30 Oktober 2011

hujan dan tidur...

          Menjenguk di luar jendela,hujan mencurah-curah sejak kebelakangan ini,
mungkin sudah petanda bahawa negeri pantai timur khususnya Terengganu dan Kelantan sudah mengalami musim tengkujuh..Terengganu negeri tercinta sudah kerap kali dilanda banjir yang besar seperti pada tahun 1926 yang digelar "bah besar" mengikut daripada sejarah yg saya baca..Dalam Surah Ar-Ruum{24} "dan Dia menurunkan hujan dari langit ,lalu Dia hidupkan bumi sesudah matinya dengan hujan itu".
   Namun di dalam keadaan musim tengkujuh,biasanya nelayan tidak ke laut mencari rezeki dan mencari alternatif lain untuk menyara kehidupan seharian.Di kalangan kita yg berkerja sendiri,,bersekolah,suri rumah hujan adalah nikmat bagi mereka yang suka tidur .Dengan cuaca yang sejuk menambahkan lagi kenikmatan itu..terbaca tulisan A Dr Ray Meddis ,seorang profesor di Department Of Human sciences ,England University Of  Technology mengatakan manusia sebenarnya perlu tidur selama 3 jam sahaja.
        Allah S.W.T berfirman yang bermaksud "Daripada  rahmat -Nya ( Allah) menjadikan kamu malam dan siang untuk kamu berehat dan mencari rezeki ,mudah-mudahan kamu bersyukur (Surah al-Qasas)....


      sama-sama ya sahabat kita berfikir sejenak ya...

Sahabat

Tanggal 30 Oktober...6.00 ptg...

terpandang sekumpulan budak bermain di tepian sungai ..

di situ teringat kisah kawan -kawan di masa kecil...

apabila besar semua berubah......



kawan juga dipanggil teman...

teman seperjuangan ,teman yg dikasihi...

namun pernahkan kita selalu dengar ini...

“Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, melihat gerak-gerinya teringat mati.”

inilah dikatakan teman sejati,,,,

ada pula dikatakan..

Hadis al-Bukhari dari Abu Musa al-Asy’ari, bermaksud: “Diumpamakan rakan yang soleh dan rakan yang jahat ialah seperti (berkawan) dengan penjual minyak wangi dan tukang besi. Penjual minyak wangi tidak akan mensia-siakan anda, sama ada anda membelinya atau hanya mendapat bau harumannya. Tukang besi pula boleh menyebabkan rumah anda atau baju anda terbakar, atau mendapat bau busuk.

Fikir-fikrkan lah sahabat...

termenung sejenak di hadapan dekstop komputer sebentar.....